COMES:- Masjid al Aqsha semakin dalam bahaya, dengan bertambahnya intensitas ancaman kaum radikal Zionis Israel yang akan meledakan Masjid al Aqsha atau melakukan pembantaian massal terhadap jama’ah sholat di sana.
Demikian dilaporkan sumber keamanan keamanan Zionis Israel. Sumber-sumber keamanan yang bertanggung jawab atas berbagai ancaman ini menegaskan tentang adanya rencana perusakan terhadap Masjid al Aqsha oleh kelompok Zionis garis keras. Dengan alasan menentang rencana penarikan sepihak Sharon dan Jalur Gaza dan sejumlah permukiman Yahudi di Tepi Barat.
Pihak keamanan Israel menyatakan, pelarangan aksi perusakan terhadap al Aqsha itu susah. Dikarenakan hal itu kadang dilakukan oleh orang-orang yang tidak diketahui dari aparat kemanan sendiri.
Harian Israel Yedeot Aharonot, Senin (5/4/2005), menyebutkan pihak kepolisian memutuskan untuk meningkatkan keamanan sekitar masjid al Aqsha menyusul meningkatnya ancaman serangan dari kaum radikal Yahudi yang akan melakukan perusakan terhadap tempat-tempat suci ummat Islam.
Aharonot manambahkan, aparat keamanan selalu mengawasi gerak-gerik gerakan radikal ultra kanan Yahudi yang beraggotakan 500 orang.
Kebanyakan mereka mempunyai senjata, akan tetapi menyatukan mereka sebagai target penyelidikan melalui aksi-aksi teror mereka adalah ketidakmungkinan politik.
Harian ini menjelaskan, ada puluhan kegiatan yang tidak diketahui secara pasti. Bahkan pihak kepolisisn Israel tidak mengetahui sebelumnya.
Belum dilakukan usaha pendekatan kepada mereka sebagaimana terhadap para pemimpin aliran kanan radikal yang terkenal dari kelompok ini. Seperti, Nu’am Fetherman, Ithmar bin Ghafir dan teman-temannya. Gerakan mereka dari dulu sudah diawasi oleh pihak kepolisian dan para intelnya.
Aharonot juga menyebutkan, pada bulan-bulan terakhir aparat keamanan mengadakan diskusi tentang gambaran yang berbeda-beda mengenai kemungkinan pelanggaran terhadap Baitul Maqdis (al Haram al Qudsi). Seperti adanya kemungkinan gerakan Yahudi Radikal melakukan serangan ke daerah ini dengan menembakan roket dari arah gunung Zaitun. Atau dengan aksi bunuh diri yang dilakukan oleh seorang yahudi yang mengendarai pesawat, kemudian menjatuhkan dirinya ke masjid al Aqsha dan meledakkan dirinya. Mungkin juga dengan menanam bom di salah satu pintu masjid.
Pihak keamanan juga mendiskusikan tentang kemungkinan serangan penembakan terhadap jama’ah shalat, sebagaimana yang terjadi di Masjid Ibrahimi di Hebron. Atau dengan melemparkan bom, meluncurkan pesawat kecil tanpa awak untuk meledakan masjid dari atas.
Kapala Intelejen Israel Evi Dikhtar telah mengungkapkan hal ini di depan pemerintah akhir-akhir ini sambil menyerahkan catatannya tentang tingkatan bahaya yang mengancam al Haram al Qudsi, satu sampai dengan sepuluh tingkatan. Dijelaskan bahwa bahaya tesebut ada beberapa macam. Sekenario penyerangan terhadap al Aqsha sudah didiskusikan pada awalnya, yaitu sepuluh tahun sebelumnya, sewaktu kegiatan organisasi rahasia Yahudi merencanakan penyerangan yang dikomandoi oleh Yahuda Atsyon, sebagai upaya untuk menggagalkan kebijakan politik Israel yang mengembalikan gurun Sinai kepada Mesir, dengan merencakan serangan terhadap al Aqsha.
Sebagaimana yang telah direncanakan kaum ekstrimis ultra kanan Zionis Yahudi, pada Ahad (10/04) mendatang mereka memutuskan untuk menyerang masjid al Aqsha. Bisa jadi mereka akan melakukan peledakan atau pembantaian massal di sana. Dapat dipastikan, bentrokan sengit akan meletus di pelataran masjid al Aqsha antara yang melibatkan puluhan ribu Yahudi dengan kaum muslimin yang mempertahankan masjid al Aqsha dari serangan musuhnya.
Dengan begitu biasa saja terbukti kekhawatiran sumber-sumber keamanan Zionis Israel akan meletusnya kembali intifhadloh Palestina yang lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Prediksi terjadinya Inthifadhah ketiga ini mungkin sebentar lagi, namun dinas intejen Zionis meyakini bahwa hal itu akan terjadi sekitar bulan September depan.
Sumber-sumber keamanan Zionis mengungkakan akan tingginya tingkat kekacauan menyusul aksi serangan pada 10 April mendatang, yang dilakukan dengan dalih menolak rencana penarikan sepihak Sharon. Gerakan Yahudi “Pengaman Jabal Haikal” akan mengadakan aksi yang diberi nama “Rifafah”, gerakan ini akan melatih orang-orang Yahudi yang tergabung dalam aksi ini guna menunjukan kekuatan mereka menentang rencana sepihak Sharon.. Kelompok ini akan bergerak membawa ribuan masa Yahudi ke masjid al Aqsha.
Menghadapi masalah ini, kaum muslimin Palestina mendeklairkan tidak akan mengizinkan orang Yahudi memasuki tempat tersebut suci tersebut. Kaum muslimin telah meniupkan terompet perang pada hari ini untuk bersiaga menjaga eksistensi masjid al Asqha dari serangan kaum ekstrimis Yahudi. Faksi-faksi perlawanan Palestina memperingatkan, masjid al Aqsha ada dalam garis merah, mereka akan mempertahankannya dengan seluruh kekuatan yang ada.
Para pemimpin perlawanan di Palestina menyerukan kepada kaum muslimin untuk datang pada hari Ahad depan ke masjid al Aqsha, dalam rangka menghadang aksi teror kaum ekstrimis Yahudi dan menghalangi mereka ke menuju al Aqsha. Para pemimpin Perlawanan juga menyerukan kepada beberapa negara Arab laninya untuk melindungi tempat suci tersebut.
Sumber-sumber Zionis mengatakan, masjid al Aqsha beberapa tahun ini bagaikan magma gunung berapi yang siap meletus, yang akan membakar dua negara yang bertikai. Oleh karena itu aparat intelijen Zionis berusaha dengan segala kemampuan yang ada untuk melakukan kekacauan di daerah, yang mengakibatkan penundaan penarikan sepihak, meski kaum ekstrimis Yahudi ini kemungkinan tetap melakukan rencananya.
Para pejabat keamanan memperingatkan tingginya tingkat kemungkinan kelompok Yahudi radikal ini melakukan aksinya. Mereka itu terdiri dari kelompok Kahanah atau gerakan keagamaan radikal yang hendak melakukan perusakan terhadap masjid al Aqsha dengan tujuan menghalangi pelaksanaan penarikan sepihak. Mereka menambahkan, pelanggaran terhadap al Aqsha akan mengakibatkan meletusnya perang yang meluas tidak saja dari kubu Palestina, tetapi akan meluas dari dunia Islam semuanya. (markas/asy)